Cerita ini di kutip dari dongeng seorang nenek. Pada zaman dahulu di Banyuwangi ada seorang raja. Dia adalah prabu tawangalun. Masa
kepemimpinan Prabu Tawangalun Banyuwangi loh jinawi rakyat tentram tidak kurang sandang tidak kurang pangan. Prabu Tawangalun di cintai
rakyatnya karena kesabaranya di dalam mengarungi ke pemimpinanya. Tiba-tiba Prabu Tawangalun tersandung masalah berebut kekuasaan dengan
adiknya. Siapa adiknya Prabu Tawangalun dia adalah wirobroto.
Wirobroto adalah sosok watak yang kasar dan keras kepala. Wirobroto
memberontak kakaknya ia ingin mengambil alih kekuasaan dan Wirobroto berontak di bantu Patih Grinsing. Tentu saja Prabu Tawangalun
menolak. PrabuTawangalun takut apa bila kerajaannya dipimpin Wirobroto takut morat-marit hingga terjadilah perang antara Wirobroto
dan Tawangalun. Wirobroto di bantu Patih Grinsing. Dan akhirnya Wirobroto mati atau tewas di tangan Prabu Tawangalun. Kemudian Patih Grinsing
tidak terima, dia ikut melawan Prabu Tawangalun. Sehingga Patih Gringsing juga
ikut tewas. Mengetahui saudaranya tewas Prabu Tawangalun menyesal dengan kematian
adiknya. Rasa penyesalan yang berkepanjangan, Prabu Tawangalun memutuskan untuk bertapa. Tempat pertapaan Prabu Tawangalun di kaki bukit
gunung Raung. Setelah lama bertapa, tiba-tiba Prabu Tawangalun mendengar
suara tanpa bayangan. Menurut dongeng yang ada, suara tanpa bayangan
bicara "hai anakku Tawangalun kamu jangan enak-enak bertapa. Bangun
dan langkahkan kakimu. Nanti kalau ada macan berwarna putih naiklah
jadikan macan itu sebagai kendaraanmu." Selang beberapa saat macan berwarna putih muncul. Kemudian Prabu Tawangalun mengikuti kemana macan
melangkah. Tiba macan berwarna putih tadi berhenti. Prabu Tawangalun
bingung, kenapa macan berhenti disini. Prabu Tawangalun mikir iya
sudah berhubung kamu berhenti disini macan. Maka desa ini aku kasih
nama MACAN PUTIH.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar